lokasi

BALAI PENYULUHAN PERTANIAN ( BPP ) KOTA TULUNGAGUNG Jln. Raya Bendil Kel. Panggungrejo Kec. Tulungagung Jawa Timur

Materi Penyuluhan

1. Pengolahan Lahan Sawah Terpadu Wilayah BPP Kota Tulungagung

Untuk Materi Penyuluhan  Wilayah BPP Kota Tulungagung
T
anggal : 5  Nopember 2012 Potensi wilayah BPP Kecamatan Tulungagung  luas sawah  322,91 Ha yang terdiri  dari sawah yang berpengairan tehnis 80 %  dan yang 20 % berpengairan setengah tehnis.
        Pengolahan lahan yang diperuntukan bagi tanaman padi sangatlah penting untuk perhatikan.   Karena lahan sawah (tanah sawah) merupakan tempat mengambil cadangan hara yang dibutuhkan  bagi tanaman padi. 
Tanah ibarat dapur yang mengolah dan menyediakan nutrisi makanan bagi tanaman. Oleh karena itu pertumbuhan tanaman padi diantarannya akan dipengaruhi sejauhmana proses pengolahan yang dilaksanakan sebelum ditanami.                  
Sistem pengolahan lahan dapat dilaksanakan secara tradisional dengan menggunakan bajak, singkal, dan cangkul. maupun  dengan cara modern dengan menggunakan alat mekanisasi seperti hand traktor
Proses pengolahan lahan sawah yang baik seyogiannya diawali dengan cara melakukan pemisahan jerami, sisa – sisa panen yang tidak terangkat, rumput dan tanaman gulma lainnya. Agar supaya jerami dan sisa – sisa tanaman lainya tidak dibakar. Maka untuk memudahkan proses pengolahan lahan, sebaiknya jerami dipisahkan dan dikumpulkan disekitar pematang.(pinggiran.petakan).                                                                                                                       Apabila tanah setelah mengalami musim kemarau, sebelum diolah tanah sebaiknya digenangi air terlebih dulu beberapa hari agar pori-pori tanah membuka dan tekstur tanah menjadi  lembek.
1.    Setelah tanah menjadi lembek, artinya tanah siap untuk diolah.
2.    Pengolahan pertama dilakukan dengan cara dibajak, bisa menggunakan bajak/singkal dengan bantuan sapi atau kerbau.  atau bisa juga menggunakan bajak traktor tangan. Proses pembajakan ini dilakukan dengan cara membalikan lapisan olah tanah agar sisa – sisa tanaman seperti  rumput, dan jerami dapat terbenam. Setelah tanah dibajak, maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.

3.    Selama proses tersebut sebaiknya ditambahkan bahan organik lainnya seperti pupuk kandang dan pupuk hijau. Agar kandungan hara dalam tanah dapat meningkat. Penggunaan bahan organik bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha, seperti kompos, jerami, pupuk kandang/kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya. Pupuk kandang dan sumber organik lainnya digunakan  pada saat pengolahan lahan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah. Dan menyediakan mikro hara dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik). Penggunaan bahan-bahan ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan mikroba dan perputaran hara dalam tanah.
4.    Setelah proses pembalikan lapisan olah dan pemeraman bahan organik dalam tanah. Kemudian dilakukan proses pengolahan kedua yaitu proses penggemburan atau proses pencampuran antara bahan organik dengan tanah.  Proses ini dimaksudkan agar bahan organik dapat menyatu dengan lapisan olah tanah. Diusahakan selama pengolahan ini pasokan air agar mencukupi. Jangan terlalu kering dan jangan terlalu basah. Proses pencampuran ini dilakukan  sampai bahan organik benar-benar menyatu dan melumpur dengan lapisan olah tanah.
5.    Proses  selanjutnya permukaan tanah diratakan dengan bantuan alat berupa papan kayu yang ditarik sapi atau kerbau, atau dengan menggunakan traktor tangan.  Proses ini dimaksudkan agar lapisan olah tanah benar-benar siap untuk di tanami tanaman padi pada saat tandur dilaksanakan.
6.    Waktu yang dibutuhkan selama proses pengolahan tanah ini berkisar antara 16 – 18 hari.              Dianjurkan agar penggunaan traktor tangan dikurangi, karena pengaruh yang ditimbulkan jika setiap kali mengolah tanah menggunakan traktor adalah tekstur tanah menjadi lebih padat.  Hal ini akan mempengaruhi proses penyerapan hara dan pertumbuhan perakaran pada tanaman padi.
Sekian semoga bermanfaat  terimakasih
  
Penulis : H.M. Suparlan,MMA. (Kood  I   BPP  KotaTulungagung) 
Editor  :  Karpani,SP. , Ninik Dinorowati,SP    


Bahan Bacaan :Lembaran Fakta Padi. 2007. Bahan Organik dan Pupuk Kandang (Organic Materials and Manure). Artikel Online. www.knowledgebank.irri.org.

Zulkifli Zaini,Diah WS, dan  Mahyuddin Syam. 2004. Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah. Meningkatkan Hasil dan Pendapatan Menjaga Kelestarian Lingkungan.  (BPPTP – BPTP Sumut – BPTP NTB)  Balai Penelitian Tanaman Padi. International Rice Research Institute. 




2. Pesemaian  Padi

Untuk Materi Penyuluhan  Wilayah  BPP Kota Tulungagung
T
anggal : 18 Nopember 2012

Penggunaan benih bermutu yang bernas sebanyak 25 kg/ha.
Pesemaian dibuatdi luar lahan atau menggunakan kotak/ besek dengan media tanah dan bahan organik seperti kompos, pupuk kandang.
Pesemaian dapat dipilih sebagai culikan, pesemaian kering, dan sistem dapog yang dilakukan 15 hari sebelum panen.

a. Pesemaian dapog.

Pesemaian dapog yaitu menggunakan kotak dengan media tanah dan pupuk organik denganperbandingan 1 : 1.
Kotak pesemaian dapat disesuaikan dengan keadaan, bisa besek atau kotak kayu/plastic ukuran 28 x 58 cm jika akan memakai alat tanam
Kebutuhan benih sebanyak 20 kg/ha. Prosedur hampir samadengan pesemaian basah

b. Pesemaian culikan.

 Pesemaian culikan dibuat di areal pertanaman padimusim sebelumnya menjelang panen, yaitu 15 hari sebelum panen. Lahan yangdigunakan seluas 5% dari luas rencana penanaman padi berikutnya. Lahan segeradiolah sederhana, diberi pupuk urea, SP36, dan KCI untuk pesemaian dengantakaran masing-masing 40 g/m2. Bila perlu benih diberi insektisida dan fungisida.Pedum IP Padi400 | Badan Litbang Pertanian 14

c. Pesemaian kering atau basah.

Pesemaian kering dilakukan pada tanah darat yang luas pesemaiannya disesuaikan dengan lahan sawah yang akanditanami. Di lain pihak pesemaian basah dilakukan pada lahan sawah di luar areal yang akan dipanen.

Penulis : arif Muntohar,SP.
Editor  :  Karpani,SP. , Ninik Dinorowati,SP.  

Pustaka :                                                                                                                                                       Bahan Bacaan : Lembaran Fakta Padi. 2007. Bahan Organik dan Pupuk Kandang (Organic Materials and Manure). Artikel Online. www.knowledgebank.irri.org. Zulkifli Zaini,Diah WS, dan  Mahyuddin Syam. 2004. Petunjuk Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah




3. PRINSIP BUDIDAYA SRI
Untuk Materi Penyuluhan  Wilayah BPP Kota Tulungagung

Tanggal : 21 Nopember 2012

Penerapan SRI untuk materi Penyuluhan di wilayah binaan BPP Tulungagung                     Dengan pertimbangan antara lain :
1. Semakin menurunnya ketersediaan air.
2. Potensi lahan pertanian semakin menurun sementara penggunaan bahan kimia terus meningkat.
3. SRI adalah metode yang ramah lingkungan sekaligus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
4. Peningkatan produktivitas tanaman padi akan turut meningkatkan pendapatan petani.
5. Kenaikan harga pangan yang terjadi membutuhkan solusi untuk meningkatkan  produktivitas bahan pangan.
 SRI atau System of Rice Intensification tertumpu pada 4 hal pokok yaitu :
1.    Menanam bibit muda (5 – 15 hari setelah semai)
2.    Menanam 1 bibit pertitik tanam
3.    Mengatur jarak tanam lebih lebar (30 x 30 cm sampai 50 x 50 cm ; di Indonesia, jarak tanam ideal untuk SRI adalah 35 x 35 cm atau 35 x 35 cm)
4.    Manajemen pengairan yang super hemat dengan cara intermitten (terputus ; berselang seling antara pemberian air maksimal 2 cm dan pengeringan tanah sampai retak).
            Selain keempat hal tersebut, sangat dianjurkan untuk menggunakan pupuk organik. Pupuk organik selain menyediakan unsur hara yang lengkap (makro dan mikro) juga memperbaiki struktur tanah sehingga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman, udara yang cukup bagi perakaran, dan meningkatkan daya ikat air tanah.  Di bawah ini adalah prinsip budidaya yang telah diterapkan oleh Proyek Disimp selama lebih dari 5 tahun di berbagai lokasi pengembangan daerah irigasi.
1.    Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dilakukan sesuai anjuran pada sistem konvensional. Sangat dianjurkan untuk memberikan pupuk kandang / kompos / pupuk hijau saat pembajakan tanah. Di sekeliling petakan dibuat parit sedalam 30 – 50cm untuk membantu saat periode pengeringan.
2.    Pembibitan
Pembibitan dalam SRI sangat dianjurkan dilakukan dalam kontainer platik, kayu, anyaman bambu yang dilapisi daun pisang, atau apa saja yang dapat digunakan. Hal ini untuk mempermudah saat pindah tanam. Media tanah untuk pembibitan sebaiknya mengandung kompos atau pupuk organik yang baik dengan ketebalan 4-5 cm. Benih diberi perlakuaan khusus agar didapatkan benih yang paling baik. Lihat “Perlakuan Benih Padi”
3.    Pindah Tanam
Sebelum pindah tanam sebaiknya lahan telah betul-betul rata dan kemudia dibuat garis tanam dengan menggunakan caplak agar pertanaman teratur dengan jarak tanam seragam. Jarak tanam yang dianjurkan adalah 30 x 30 cm, 35 x 35 cm, atau pada tanah yang subur dapat diperjarang sampai 50 x 50 cm.

Bibit dapat dipindahtanamkan pada umur 5 – 15 hari setelah semai (berdaun 2) dengan jumlah 1 bibit perlubang. Pembenaman bibit sekitar 1 – 1,5 cm dengan posisi akar membentuk huruf L. Caranya adalah dengan membenamkan bibit pada jarak sekitar 10 cm di belakang titik tanam, kemudian digeser menuju titik tanam, sehingga posisi akar seperti huruf L.
4.    Pemupukan.
       Pemupukan dilakukan sesuai anjuran setempat, baik dosis maupun teknis pemberian. Hal ini disebabkan karakteristik kesuburan tanah yang berbeda-beda di setiap lokasi. Apabila menggunakan pupuk kandang, dosis pupuk kimia dapat dikurangi (mengenai hal ini sebaiknya berkonsultasi dengan pihak Cabang Dinas Pertanian setempat).
5.     Penyiangan / Pengendalian Gulma.
Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan sebanyak sekurangnya 3 kali selama masa tanam sesuai dengan kondisi di lapangan. Pengendalian gulma yang baik sebaiknya menggunakan alat weeder (lalandak) yang lebarnya disesuaikan dengan jarak tanam. Gulma yang tercabut dapat dibenamkan atau disisihkan (dalam hal ini bila dominansi jenis gulma yang berumbi seperti teki).
6.    Pengairan
Pengairan atau pemberian air dilakukan secara intermitten atau terputus-putus. Pada awal penanaman, pemberian air dilakukan sampai kondisi minimal macak-macak atau maksimal sekitar 2 cm. Kemudian dibiarkan mengering sampai kondisi tanah mulai terbelah-belah dan mulai lagi dengan pemberian air maksimal, begitu seterusnya. Kondisi tanah yang kering terbelah memberikan kesempatan oksigen lebih banyak masuk dalam pori-pori tanah sehingga akan memperbaiki proses respirasi (pernapasan) perakaran. Kondisi ini tentu akan meningkatkan pertumbuhan perakaran dan perkembangan anakan.  Seperti juga pada sistem konvensional, pemberian air dihentikan saat periode pemasakan bulir padi.
7.    Pengendalian Hama dan Penyakit.
Dalam metode SRI, pengendalian hama dilakukan dengan sistim PHT. Dengan system ini, petani diajak untuk bisa mengelola unsur-unsur dalam agroekosistem (seperti matahari, tanaman, mikroorganisme, air, oksigen, dan musuh alami) sebagai alat pengendali hama dan penyakit tanaman. Cara yang dilakukan petani misalnya dengan menempatkan bilah-bilah _isban/ajir di petakan sawah sebagai “terminal” capung atau burung kapinis Selain itu petani juga menggunakan pestisida berupa ramuan yang diolah dari bahan-bahan alami untuk menghalau hama. Untuk pengendalian gulma, metode SRI mengandalkan tenaga manusia dan sama sekali tidak memakai herbisida.

Biasanya digunakan alat bantu yang disebut “susruk”. .Ini adalah semacam garu yang berfungsi sebagai alat pencabut gulma. Dengan alat ini, gulma yang sudah tercabut sekaligus akan dibenamkan ke dalam tanah untuk menambah bahan didalam tanah. Perlu diingat, bahwa dalam aplikasi metode SRI, gulma yang tumbuh akan _isbandi banyak karena sawah tidak selalu ada dalam kondisi tergenang air.
8.    Panen
Panen dilakukan setelah tanaman menua dengan ditandai dengan menguningnya semua bulir secara merata. Bila bulir digigit tidak sampai mengeluarkan air. Dari pengalaman di lapangan, dengan pemasakan bulir pada SRI lebih cepat terjadi sehingga umur panen lebih cepat dan bulir padi lebih banyak dan lebih padat.
Demonstrasi area yang dilakukan selama ini membuktikan bahwa SRI mampu memberikan kelebihan hasil panen seperti :
•    Tinggi tanaman lebih tinggi mulai umur tanaman 60 hari
•    Jumlah anakan 2 kali lebih banyak sejak umur 40 hari
•    Jumlah anakan produktif meningkat 2 kali
•    Jumlah bulir permalai lebih banyak
•    Jumlah bulir bernas lebih banyak
•    Berat bulir per 100 butir gabah lebih tinggi
•    Kadar air saat panen lebih rendah
Denga sejumlah peningkatan tersebut di atas, sudah pasti SRI memberikan nilai produktivitas yang jauh lebih tinggi disbanding dengan metode konvensional.

KESIMPULAN
Metode SRI menguntungkan untuk petani, karena produksi meningkat sampai 10 ton/ha, selain itu karena tidak mempergunakan pupuk dan pestisida kimia, tanah menjadi gembur, mikroorganisme tanah meningkat jadi ramah lingkungan. Untuk mempercepat penyebaran metode SRI perlu dukungan dengan kebijakan pemerintah pusat maupun daerah
 

Penulis : Karpani,SP,  BPP  KotaTulungagung                                                                                                                                                    Editor  :  Suparlan,SP,MM., Ninik Dinorowati,SP




4. PENGENDALIAN TIKUS
 

Untuk Materi Penyuluhan  Wilayah BPP Kota Tulungagung

Tanggal  : 27 Nopember 2012


BIOLOGI
    Jenis tikus yang merusak pada tanaman ada tiga jenis yaitu : Tikus sawah,Tikus ladang dan Tikus rumahan.
Tikus sawah berkembang biak pada umur 1,5 – 2 bulan, masa bunting 21 hari & mampu menghasilkan anak sekitar  10 – 12 ekor setiap melahirkan. Dalam waktu 48 jam setelah melahirkan, tikus betina dapat kawin lagi. Dalam keadaan hamil, mampu menyusui anak. Kemampuan melahirkan dalam satu tahun 4 kali sehingga satu induk dapat mencapai 1200 ekor. Masa hidup tikus tergantung ketersediaan makanan dilapangan & biasanya tidak lebih dari satu tahun.
TINGKAH LAKU
Sifat- sifat tikus yang penting antara lain : cerdik, pemakan segala yang ditemukan namun lebih menyukai beras ataupun gabah. Mempunyai daya adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan. Tikus sawah buta warna, namun dapat mengenali warna hijau dan kuning dalam jarak sekitar 100 meter. Indra penciuman, peraba dan pendengaran sangat tajam.Tikus aktif pada malam hari.
Jelajah harian tikus relative tetap, setiap malam. Kemampuan migrasi ± 1-2 Km. Apabila dilapangan tidak tersedia makanan, tikus akan bermigrasi ke perkampungan disekitar areal persawahan .
HABITAT
Kondisi habitat sangat menentukan perkembang biakan dan populasi tikus di lapangan. Ketersediaan makanan yang cukup secara terus menerus akan memacu perkembangan tikus sepanjang tahun. Dengan demikian daerah dengan pola tanam tidak serempak, sangat mendukung perkembangan tikus dilapangan.
    Kondisi yang menguntungkan bagi tikus adalah areal dengan banyak pematang,tanggul-tanggul ,tumpukan jerami, semak-semak dan gulma.
Tikus hidup dalam liang yang dibuat disekitar pertanaman. Liang berfungsi sebagai tempat berlindung dan berkembang biak. Liang tikus biasannya mempunyai pintu masuk utama yang berakhir dengan satu atau dua jalan keluar yang disamarkan. Pada keadan tertentu seperti banjir,persediaan makanan berkurang, tikus akan mengembara ke tempat lain.
Pada umumnya liang yang ditinggalkan oleh tikus, tidak digunakan lagi oleh tikus lainnnya. 
TEKNIK PENGENDALIAN
    KULTUR TEKNIS
1.    Melakukan gropyokan massal dengan membongkar setiap lubang pada saat Bera atau saat pengolahan tanah.
2.    Tanam serempak dalam satu hamparan.
3.    Membersihkan gulma dipertanaman dan disemak-semak lingkungan sekitar.
4.    Memindahkan dan membakar jerami  jerami sisa panen.
5.    Pada saat pesemaian, dikendalikan dengan pagar plastic.
6.    . Pertanaman padi yang lebih awal masak di  pasang pagar plastic.

CARA  BIOLOGI
Menjaga agar musuh alami dapat berkembang dan berfungsi dengan alamiah.
Musuh tikus antara lain :
     Burung hantu,ular, kucing, anjing dan musang.
CARA KIMIA
•    Racun tikus ada dua macam yakni Racun akut ( sangat beracun dan dapat membunuh tikus dengan cepat) dan Racun Kronis (membunuh tikus setelah makan berulang-ulang).
•    Pengumpanan dengan racun akut hanya efektif dilakukan pada saat Bera, menjelang musim hujan. Pada saat itu sumber makanan kurang tersedia .
•    Pada saat pertumbuhan vegetative umpan diletakkan dipematang dengan jarak  ± 50 m. antar lokasi umpan.
•    Pada saat bunting, umpan diletakkan pada petak sawah sejauh satu meter dari pematang.
•    Pada saat padi berbunga hingga panen, umumnya tikus sedang bunting atau beranak, Pengemposan dengan asap belerang atau tiran merupakan cara yang efektif. Pemasangan umpan pada fase ini sudah tidak efektif,karena sumber makanan sudah cukup melimpah.
•    Setelah ada pertanaman padi, dilakukan pengemposan dengan tiran  pada setiap lubang atau sarang tikus

Penulis : Supriyanto  BPP  KotaTulungagung
Editor  :  Karpani,SP, Ninik Dinorowati,SP


 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar